Marvel Cinematic Universe (MCU) dulu jadi acara wajib, tapi Fase 5 terasa seperti kencan buta yang terus mengecewakan. Banyak fans loyal yang kini mengeluhkan “superhero fatigue” bukan tanpa alasan. Kita tidak lagi membicarakan sekadar “film jeleh sesekali”, tapi pola yang mengkhawatirkan dari sebuah franchise yang tampak kehilangan arah.
Ketika Kualitas Tergerus Oleh Kuantitas
Disney+ menjadi pedang bermata dua untuk Marvel. Di satu sisi, platform itu memperluas dunia cerita. Di sisi lain, ia memaksa produksi berjalan terlalu cepat.
Marvel merilis 7 film dan 8 serial TV dalam 2 tahun Fase 5. Bandingkan dengan Fase 1 yang hanya punya 6 film dalam 4 tahun. Perbedaan ini bukan sekadar angka; ini soal energi kreatif yang terkikis.
Studio kini beroperasi seperti pabrik, bukan sanggar kreatif. Efeknya langsung terasa di layar: dialog yang terasa dipaksakan, CGI yang belum matang, dan klimaks yang tidak memuaskan.
Tekanan Produksi yang Tidak Manusiawi
Deadline demi deadline saling mengejar. VFX artist mengeluhkan jam kerja brutal dan revisi tak berujung. Hasilnya? Efek visual yang dulu menjadi kebanggaan Marvel kini jadi bahan celaan.
Ingat bagaimana She-Hulk atau beberapa adegan di Ant-Man and the Wasp: Quantumania mendapat hujatan karena CGI-nya yang “plastik”? Itu gejala dari sistem yang overworked.
Lelah dengan Multiverse Tanpa Ujung
Konsep multiverse seharusnya membuka kemungkinan tak terbatas. Kenyataannya, ia malah mengubah narasi menjadi homework assignment.
Penonton harus ingat detail dari film yang rilis 5 tahun lalu, serial yang baru tayang, plus komik referensi untuk “paham sepenuhnya”. Hiburan tidak seharusnya membutuhkan susunan catatan belajar.
Bayangkan dulu: menonton The Avengers (2012) hanya butuh pengetahuan dasar dari 5 film solo. Sekarang, satu film bisa punya 10+ referensi yang krusial untuk mengerti konteksnya.
Taruhannya Terasa Semakin Kecil
Ironisnya, semakin besar skala multiverse, semakin personal risikonya terasa. Ketika setiap ancaman bisa “di-reset” dari universe lain, kenapa kita harus peduli?
Kematian karakter kehilangan bobotnya. Keputusan penting terasa bisa di-retcon kapan saja. Rasa urgensi yang dulu jadi ciri khas MCU kini menghilang.
Krisis Koneksi Emosional
Fase Awal MCU berhasil karena kita mengikuti perjalanan Tony Stark, Steve Rogers, dan Thor secara intim. Kita tumbuh bersama mereka.
Fase 5 memperkenalkan karakter baru dengan kecepatan kilat: Shang-Chi, Eternals, Ms. Marvel, She-Hulk, Moon Knight. Tapi berapa banyak yang benar-benar punya waktu untuk “bernafas” dan berkembang?
Karakter terasa seperti aset IP, bukan manusia (atau alien) dengan perjalanan emosional yang kita bisa ikuti. Kita diberi origin story yang terburu-buru, lalu langsung diminta investasi emosional tinggi.
Fase 5 kehilangan “jantung”-nya. Kita punya peta universe yang lebih besar, tapi rute perjalanan yang lebih sempit dan tidak personal.
Masalah Villain yang Tidak Menggigit
Thanos dibangun selama 10 tahun, 6 film cameo, dengan motivasi filosofis yang jelas. Ia jadi standar emas antagonis MCU.
Lalu datang Kang. Karakter yang kompleks di komik, tapi versi layarnya terasa datar dan repetitif. Kita lihat berbagai varian Kang, tapi belum ada satu pun yang punya nuansa seperti Thanos.
Villain lainnya? Gorr the God Butcher di Thor: Love and Thunder punya potensi menakutkan, tapi tereksekusi dengan campuran komedi yang tidak seimbang. High Evolutionary di Guardians 3 malah terasa lebih seperti villain klasik MCU, tapi itu pengecualian, bukan aturan.
Formula yang Terlalu Aman
Marvel dulu berani bereksperimen: Captain America: The Winter Soldier jadi thriller politik, Guardians of the Galaxy jadi space opera komedi.
Fase 5 terjebak di template yang sama: act 1 humor ringan, act 2 exposisi dunia, act 3 CGI battle besar. Rinse and repeat.
Bahkan film yang seharusnya “gelap” seperti Doctor Strange in the Multiverse of Madness terpaksa menyisipkan joke setiap 5 menit, menghilangkan ketegangan yang dibangun.
Apa yang Bisa Diperbaiki?
Keadaan tidak sepenuhnya suram. Guardians of the Galaxy Vol. 3 dan Loki Season 2 membuktikan Marvel masih bisa menghasilkan karya berkualitas ketika diberi waktu dan fokus yang tepat.
Studio perlu belajar dari kesalahan:
- Kurangi output: Fokus pada 2-3 film dan 1-2 serial berkualitas per tahun, bukan 7-8 proyek.
- Prioritaskan penulisan: Hire showrunner dan screenwriter yang punya visi jelas, bukan hanya penulis gig.
- Beri ruang bernapas: Karakter baru butuh 2-3 film untuk benar-benar diterima, bukan sekadar cameo di team-up.
- Balikkan ke fokus karakter: Multiverse hanya background, bukan bintangnya. Cerita personal harus jadi prioritas.
- Respect VFX artist: Beri waktu rendering yang cukup. Kualitas visual tidak bisa dikompromi.
Kesimpulan: Marvel Butuh Reset Kreatif
Fase 5 bukanlah kematian MCU, tapi wake-up call yang sangat dibutuhkan. Fans tidak pergi karena bosan superhero; mereka pergi karena merasa tidak dihargai.
Mereka lelah jadi konsumen konten, bukan penikmat cerita. Mereka rindu perasaan menontong Endgame dan berteriak di bioskop bersama orang asing yang jadi sahabat sejam.
Marvel punya modal besar: karakter ikonik, talenta luar biasa, dan basis fans setia. Tapi modal itu akan habis jika terus diperlakukan sebagai mesin uang semata.
Studio perlu ingat: di balik setiap IP ada harapan penonton untuk terhubung, terinspirasi, dan terhibur—bukan sekadar diingatkan untuk menonton konten berikutnya.
MCU dibangun dengan cinta. Untuk selamat, ia butuh cinta itu kembali—bukan hanya strategi marketing.