Kalau kamu sudah lelah dengan komedi Indonesia yang cuma ngandelin lawakan receh dan cameo artis, Agak Laen mungkin bisa jadi angin segar. Atau… mungkin juga tidak. Film ini memang lagi ramai dibicarakan, tapi apakah memang sebagus hype-nya? Saya habis nonton, dan ini kesan saya.

Inti Permasalahan: Komedi Horor yang Beneran Berani Beda
Yang langsung keliatan dari Agak Laen adalah keberaniannya nggak ngikut formula komedi mainstream Indonesia. Alih-alih ngandelin slapstick atau cameo artis sinetron, film ini malah bangun komedi dari situasi absurd yang natural. Konsepnya sederhana: sekelompok orang ngejual pengalaman horor buat wisata hantu, tapi malah kejadian yang nggak direncanain.
Bedanya, penulis skenario nggak buru-buru ngasih punchline. Mereka kasih ruang buat penonton ikut merasakan ketidaknyamanan karakternya dulu. Hasilnya? Ketika leluconnya datang, itu berasa earned—bukan cuma lemparan lawakan dadakan.
Kekuatan Utama: Chemistry yang Bikin Percaya
Yang paling ngejaga film ini tetap solid adalah chemistry antar pemain. Bukan cuma sekadar kompak, tapi mereka beneran terasa seperti sahabat lama yang udah saling nyaman. Tiap interaksi punya dinamika sendiri, dari yang pendiem sampe yang over the top, semuanya punya momen shine.
Karakter yang paling standout justru yang paling understated. Si tipe pendiem yang reaksinya minimal tapi timing-nya dead on. Ini bikin komedinya nggak terasa forced. Kita nggak dituntut ketawa tiap detik, tapi ketika harus ketawa, itu kerasa genuine.
Horornya: Tension yang Dibangun dengan Cermat
Bagian horornya—meski nggak terlalu seram—justru berfungsi sebagai set-up yang efektif. Lighting dan sound design nggak cuma asal gelap dan keras. Ada build-up yang sabar, bikin penonton ikut tegang sebelum akhirnya komedinya break the tension.
Tapi jangan harap jump scare tiap 5 menit. Film ini lebih suka mainin anticipation ketimbang shock value. Buat yang cari horor pure, mungkin bakal kecewa. Tapi buat yang pengen rollercoaster emosi, ini pas.
Apa yang Bisa Ditingkatkan
Di pertengahan, pacing agak dragging. Beberapa subplot mungkin bisa dipangkas tanpa ngurangi esensi. Terutama di act kedua yang sempet kehilangan momentum. Tapi untungnya, act ketiga balik lagi kuat dengan climax yang cukup satisfying.
Komedinya juga kadang masih terjerumus ke repetitive pattern. Beberapa running gag yang awalnya lucu, kalau dipakai berulang kali jadi agak predictable. Meski nggak sampai mengganggu, tapi terasa kalau sedikit variasi lebih banyak bakal lebih fresh.

Verdict: Hype yang (Sebagian) Bisa Dipertanggungjawabkan
Agak Laen bukan film sempurna, tapi ia punya identitas kuat. Ini komedi horor yang nggak cuma asal ngecampur dua genre, tapi ngerti cara bikin keduanya saling menguatkan. Nggak semua joke lands, tapi yang lands beneran kerasa.
Buat yang udah bosan formula komedi Indonesia yang itu-itu aja, ini wajib coba. Buat yang pengen nonton ringan tapi tetap punya substansi, ini pas. Tapi kalau ekspektasinya mau film horor yang bikin susah tidur, mungkin cari film lain aja.
Agak Laen berhasil nunjukin kalau komedi Indonesia bisa cerdas tanpa harus jadi indie yang susah diakses. Ia menghibur, tapi juga nggak lupa kasih penonton alasan buat peduli sama karakternya.
Skor Akhir & Siapa yang Harus Nonton
Secara pribadi, saya kasih 7.5/10. Poin besar buat keberanian eksperimen dan chemistry cast. Pengurangan kecil buat pacing tengah yang agak melambat.
Kamu akan suka film ini kalau:
- Suka komedi yang dibangun dari karakter, bukan sekadar lawakan dadakan
- Nggak masalah horornya lebih ke tension ketimbang gore atau jump scare
- Pengen liat chemistry pemain yang terasa natural dan nggak scripted
- Lelah sama cameo artis yang cuma buat nama doang
Kamu mungkin kecewa kalau:
- Cari film horor yang beneran seram dan gelap
- Maunya ketawa terus dari awal sampe akhir tanpa jeda
- Ekspektasinya mau komedi yang high-concept atau satir tajam
Intinya, Agak Laen adalah bukti kalau komedi mainstream bisa berkualitas kalau punya tim yang peduli sama craft-nya. Hype-nya nggak sepenuhnya berlebihan, tapi nggak juga sempurna. Ia ada di sweet spot yang bikin kamu keluar bioskop dengan perasaan puas—dan mungkin sedikit kangen sama karakternya.