Baru selesai nonton Exhuma dan masih merinding? Sama. Tapi ini yang bikin pusing: teman-teman yang *benci* horror justru yang paling hype soal film ini. Logikanya nggak masuk—horror kan identik dengan jump scare murahan dan darah bertebaran. Tapi percaya deh, ini bukan horror yang biasa kamu tolak.

Masalah klasik: kamu penasaran sama film yang semua orang bilang “masterpiece”, tapi satu kali liat poster-nya sudah mau mundur. Exhuma justru meretas rasa takutmu dengan cara yang… elegan. Solusinya? Film ini lebih seperti cerita mistis budaya dengan lapisan horor psikologis, bukan sekadar gorefest. Kamu nggak disuruh takut, kamu diajak *memahami* kenapa rasa takut itu ada.

Horor Tanpa Jump Scare Murahan? Bisa Dong

Yang pertama bikin terkejut: minim banget jump scare-nya. Jangankan yang tiba-tiba muncul, yang bikin merinding justru suasana-nya. Kamera lambat, suara angin, dan ritual adat yang kamu nggak paham tapi otomatis ngerasa *something’s wrong*.

Director Jang Jae-hyun nggak main-main dengan feng shui dan shamanisme Korea. Setiap gerakan ritual punya arti, setiap lokasi dipilih bukan cuma buat visual keren. Ini seperti nonton dokumenter mistis yang kebetulan punya elemen supernatural—dan itu bikin otak sibuk mikir, bukan cuma jantung yang deg-degan.

Bayangin kombinasi The Wailing tapi lebih terstruktur, plus Indiana Jones versi gelap. Nggak ada adegan buang-buang waktu; semua ada payoff-nya.

Choi Min-sik: Jaminan Kualitas Tanpa Syarat

Kalau nama Choi Min-sik muncul, kamu bisa taruh uang: karakternya bakal kece. Di sini dia jadi sanggeom (pawang) veteran yang nggak percaya setengah-setengah. Ekspresinya? Dari skeptis sampai terbelalak takut, semua natural. Kamu nggak lihat “aktor lagi akting”—kamu lihat orang tua yang benar-benar *terjebak* dalam masalahnya.

Baca:  Review Film Dune: Part Two — Visual Memukau, Tapi Apakah Ceritanya Membosankan?

Kim Go-eun juga beda dari peran biasanya. Bukan cuma “perempuan yang ditakut-takuti”, tapi penengah emosional yang bikin kamu peduli sama nasib semua orang. Chemistry mereka dengan Yoo Hae-jin dan Lee Do-hyun bikin kuartet ini nggak ada yang lemah.

Tokoh yang Kamu Ikuti, Bukan Cuma Incaran Monster

Horror sering punya karakter sekadar target. Di sini, setiap orang punya motivasi jelas dan *flaw* yang nyata. Kamu nggak mau mereka mati karena kamu udah investasi emosional. Itu yang bikin tegangnya beda: bukan “siapa yang mati duluan?”, tapi “gimana caranya mereka *selamat*?”

Kecepatan Membakar: Lambat Tapi Pasti Menyala

Act pertama memang agak lambat. Mereka ngubur-ngubur, ngobrol, ngobrol lagi. Tapi setiap dialog ngasih puzzle piece—dan kamu nggak sadar kalau kamu udah ikutan *nyelesain* misteri ini. Pace-nya mirip menyalakan api unggun: butuh waktu, tapi begitu nyala, terus terang terbakar habis.

Kalau kamu tipe yang suka slow burn thriller, ini adalah surga. Kalau kamu tipe yang butuh action terus, sabar 30 menit pertama. Setelah itu? Nggak ada waktu buat napas.

Detail Budaya yang Bikin Kamu Tercerahkan

Ini bukan cuma film horor—ini mini-course tentang mitologi Korea. Kenapa kubur harus di sana? Kenapa arah angin penting? Kenapa benda tertentu harus dikubur *bareng* mayat? Semua dijelaskan tanpa terasa seperti kuliah.

Kamu keluar bioskop bukan cuma dengan rasa takut, tapi dengan “oh jadi begini…” yang bikin kamu mikir ulang soal tradisi. Ini nilai plus buat yang nggak suka horor tapi doyan belajar hal baru.

  • Visual: Pemandangan gunung Korea yang mistis—bukan cuma hutan gelap generik
  • Suara: Alunan ritual yang repetitive tapi nggak membosankan; malah hipnotis
  • Simbolisme: Setiap warna, setiap arah punya makna dalam feng shui

Level Gore: Seberapa Parah Sih?

Ada darah. Ada mayat. Tapi nggak overdose. Gore-nya fungsional: nunjukin konsekuensi, bukan buat shock value. Kalau kamu nggak kuat liat darah sejempol, mungkin agak cekit. Tapi kalau yang kamu hindari adalah torture porn ala Saw, ini aman-aman saja.

Baca:  Review Oppenheimer: Perlu Nonton Berapa Kali Sampai Benar-Benar Paham Dialognya?

Momen paling ngeri justru yang *tidak* terlihat—yang kamu dengar dari balik pintu, yang kamu lihat dari ekspresi tokoh. Itu teknik klasik yang di sini dipoles sampai mengkilap.

Intinya: horornya mental, bukan visual. Kamu bakal takut karena paham kenapa ini salah, bukan karena ada sesuatu loncat ke layar.

Spesifikasi Cek Cepat

Aspek Detail Skor untuk Non-Horror Fans
Jump Scares Minimal, terprediksi 9/10 (low risk)
Gore Level Moderate, fungsional 6/10 (medium)
Pace Slow burn first 30 min 7/10 (but pays off)
Cultural Depth Sangat kaya 10/10 (major plus)
Rewatch Value Tinggi (detail tersembunyi) 8/10

Jadi, Worth It Nggak Buat yang Anti-Horor?

Ya, dengan catatan. Kalau kamu benci horor karena nggak suka dikejutkan, ini filmmu. Kalau kamu benci horor karena nggak suka liat darah, siap-siap tutup mata 2-3 menit singkat. Tapi kalau kamu benci horor karena ceritanya dangkal dan cuma modal hantu, Exhuma bakal buat kamu terkesima.

Film ini lebih dekat ke supernatural mystery thriller daripada pure horror. Kamu disuguhi puzzle, bukan cuma hantu. Kamu diajak diskusi soal tradisi, bukan cuma disuruh teriak. Dan ending-nya? Bukan twist murahan—itu resolusi yang logis dalam konteks mitologinya.

Siapa yang Wajib & Siapa yang Hindari

  • Wajib Nonton: Penggemar Hereditary, The Witch, atau siapapun yang suka cerita dengan lore kuat
  • Pikir-Pikir: Yang cari hiburan ringan atau butuh komedi di tengah-tengah tension
  • Hindari: Kalau kamu sangat sensitif sama ritual keagamaan atau budaya yang sangat “dark”

Kesimpulan Akhir: Horor untuk Yang Benci Horor

Exhuma bukan film yang mengubahmu jadi penggemar horor. Tapi ini film yang menghormati intelijensimu. Ia nggak paksa kamu takut; ia bangun rasa takut yang otentik dari pemahaman. Kamu keluar bioskop bukan cuma dengan rasa lega—kamu keluar dengan pertanyaan baru soal tradisi, kematian, dan hubungan manusia dengan alam.

Untuk yang nggak suka horor, ini adalah gateaway teraman ke genre ini. Ia punya semua keunggulan horor tanpa kekurangan yang bikin kamu jijik. Dan kalau kamu ternyata suka? Ini bakal jadi standar baru buat horor Asia.

Jadi, worth it? Lebih dari sekadar worth it—ini wajib. Nggak cuma buat horor fans, tapi buat siapapun yang mau liat sinema berani yang cerdas. Siap-siap aja deh, besok-besok kamu malah jadi yang ngehype-in orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Film Siksa Kubur: Seberapa Seram Tanpa Mengandalkan Jumpscare Murahan?

Film horor Indonesia akhir-akhir ini sering bikin skeptis. Kita sudah terlalu sering…

Review Oppenheimer: Perlu Nonton Berapa Kali Sampai Benar-Benar Paham Dialognya?

Oppenheimer datang dengan reputasi dialognya yang “lebih padat daripada nukleus atom”. Banyak…

Review Film Dune: Part Two — Visual Memukau, Tapi Apakah Ceritanya Membosankan?

Sebuah pertanyaan menggantung di benak penggemar Dune: bisakah sekuel ini memenuhi ekspektasi…

Review Film Agak Laen: Komedi Horor Yang Beneran Lucu Atau Cuma Hype Sesaat?

Kalau kamu sudah lelah dengan komedi Indonesia yang cuma ngandelin lawakan receh…