Film horor Indonesia akhir-akhir ini sering bikin skeptis. Kita sudah terlalu sering disuguhi formula jumpscare yang datangnya bisa ditebak, efek murahan, dan cerita yang lebih datar dari kuburan. Tapi Siksa Kubur datang dengan janji lain: ketakutan yang meresap perlahan, tanpa harus mengandalkan kejutan tiba-tiba. Pertanyaannya, apakah ia benar-benar menepati janji itu?

Tunggu, sebelum kita terlalu jauh. Izinkan aku bercerita sedikit tentang pengalaman menonton film ini di bioskop yang gelap, di mana suara desah nafas penonton lain nyaris sekeras suara di layar. Itu tanda film sedang bekerja.

Premise yang Langsung Menjebak Tanpa Basa-Basi

Film ini membuka luka dengan cepat. Kita langsung diperkenalkan pada Sita, seorang perempuan muda yang hidupnya berubah 180 derajat setelah sebuah tragedi menimpa keluarganya. Bukan hanya soal kematian, tapi soal bagaimana masyarakat menyikapi kematian itu.

Setting desa terpencil dengan tradisi kubur tanah liat—yang ternyata punya aturan sangat spesifik—langsung memberi kesan ini bukan sekadar kisah hantu biasa. Kamu bisa merasakan udara lembab, bau tanah, dan rasa tidak nyaman sejak menit awal.

Atmosphere yang Menggigit: Ini Rahasia Utamanya

Kekuatan terbesar Siksa Kubur ada di world-building-nya. Kamera tidak hanya mengikuti tokoh, tapi meresap ke dalam dinding-dinding rumah tua, ke dalam tanah, ke dalam lubuk terdalam ketakutan kita.

Baca:  Review Film Napoleon: Apakah Akurat Secara Sejarah Atau Cuma Drama Fiksi Ridley Scott?

Lighting yang sengaja minim bikin mata kita harus bekerja ekstra, mencari detail di sudut gelap. Hasilnya? Kita jadi partisipan, bukan sekadar penonton. Ketika tokoh merasa terjebak, kita juga merasa sesak.

Karakter yang Nyaris Bisa Kautemui di Lingkungan Sendiri

Salah satu yang bikin film ini bekerja adalah karakter-karakternya yang tidak sempurna. Sita bukan perempuan polos yang menangis terus. Dia marah, dia bertanya, dia melawan. Dia manusia.

Hubungannya dengan ibu mertua yang penuh tekanan, dengan suami yang terjepit tradisi, dan dengan masyarakat yang cepat menghakimi—semua ini terasa nyata. Kamu tidak akan menemukan tokoh bodoh yang sengaja masuk ke ruang gelap cuma karena skrip menyuruhnya.

Performa yang Mengangkat Material

Aku harus akui, akting para pemeran utama—terutama sang perempuan utama—menjadi tulang punggung ketegangan. Ekspresi wajahnya yang berubah dari penolakan, kecurigaan, hingga teror murni, semua terasa organik. Tidak ada yang dipaksakan.

Dialog-dialognya juga cukup natural, meski di beberapa bagian tengah agak terasa exposition yang berlebihan. Tapi untungnya, tidak sampai mengganggu alur.

Teknik Horor yang (Hampir) Tanpa Jumpscare

Ini yang paling ditunggu. Jawabannya? Siksa Kubur punya sekitar 3-4 jumpscare yang bisa dihitung dengan jari. Dan yang menarik, keempatnya—kecuali satu—justru tidak murahan. Mereka datang sebagai konsekuensi logis, bukan hanya efek suara keras tiba-tiba.

Yang lebih dominant adalah:

  • Ketegangan psikologis yang dibangun melalui sound design ambient. Suara tanah digali, desah nafas terdengar samar, langkah yang tidak pasti.
  • Visual horor yang muncul perlahan. Bayangan di sudut mata, sesuatu yang bergerak tapi tidak jelas apa.
  • Tema traumatis tentang kontrol tubuh, hak perempuan, dan tekanan sosial yang lebih menakutkan dari hantu.
  • Klaustrofobia yang dirancang melalui set yang sempit dan sudut kamera yang terbatas.
Baca:  Review Film Agak Laen: Komedi Horor Yang Beneran Lucu Atau Cuma Hype Sesaat?

Ketakutan yang sebenarnya datang dari tidak tahu. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kapan, dan kepada siapa. Itu bikin jantung deg-degan terus.

Ketakutan sejati bukanlah ketika sesuatu muncul tiba-tiba, tapi ketika kamu tahu ada sesuatu di sana, tapi tidak bisa melihatnya dengan jelas. Siksa Kubur paham betul formula ini.

Kelemahan yang Masih Bisa Dimaafkan

Tidak ada film yang sempurna. Bagian tengah film ini sedikit terasa melambat. Beberapa subplot mungkin bisa dipangkas tanpa mengurangi esensi cerita.

Selain itu, meski mayoritas jumpscare-nya berfungsi, ada satu momen di sekitar menit 45 yang terasa agak forced—seperti dipaksakan untuk memenuhi kuota. Untungnya, itu tidak merusak momentum keseluruhan.

Perbandingan dengan Film Horor Indonesia Lainnya

Aspek Siksa Kubur Film Horor Indonesia Umumnya
Penggunaan Jumpscare Sangat minimal & terukur Serampangan & berlebihan
Sound Design Ambient, organik Efek keras, tiba-tiba
Tema Sosial Kuat & terintegrasi Tipis atau sekadar latar
Set Design Detail & immersive Generik & terbatas

Untuk Siapa Film Ini?

Kamu akan menikmati Siksa Kubur jika kamu sudah lelah dengan horor Indonesia yang cuma mau bikin terkejut. Kamu suka film yang membuatmu berpikir, merasa, dan merenung setelah keluar bioskop.

Tapi kalau kamu cari hiburan ringan yang cuma mau liat hantu muncul-munculan, mungkin ini bukan pilihan tepat. Film ini menuntut kesabaran dan perhatian.

Kesimpulan: Horor yang Berani Berbeda

Siksa Kubur adalah bukti kalau film horor Indonesia bisa lebih dari sekadar komoditas. Ini adalah karya yang conscious dengan pilihan artistiknya, yang percaya bahwa penontonnya pintar dan bisa menikmati ketakutan yang dibangun dengan susah payah.

Tanpa mengandalkan jumpscare murahan, film ini justru lebih seram karena berani main di ranah psikologis dan sosial. Itu yang bikin kamu tidak hanya takut sesaat, tapi juga terbawa hingga malam harinya. Dan itu, temanku, adalah tanda horor yang sejati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like

Review Film Dune: Part Two — Visual Memukau, Tapi Apakah Ceritanya Membosankan?

Sebuah pertanyaan menggantung di benak penggemar Dune: bisakah sekuel ini memenuhi ekspektasi…

Review Film Napoleon: Apakah Akurat Secara Sejarah Atau Cuma Drama Fiksi Ridley Scott?

Ridley Scott memboyong Napoleon Bonaparte ke layar lebar dalam epik berdurasi dua…

Review Film Agak Laen: Komedi Horor Yang Beneran Lucu Atau Cuma Hype Sesaat?

Kalau kamu sudah lelah dengan komedi Indonesia yang cuma ngandelin lawakan receh…

Review Oppenheimer: Perlu Nonton Berapa Kali Sampai Benar-Benar Paham Dialognya?

Oppenheimer datang dengan reputasi dialognya yang “lebih padat daripada nukleus atom”. Banyak…