Adaptasi novel ke layar lebar itu seperti meramu kretek: satu takaran keliru, aroma legenda bisa jadi asap ilusi. Bagi pembaca setia Gadis Kretek karya Ratih Kumala, pertanyaan besarnya bukan “bagus atau tidak,” tapi “apakah jiwanya masih ada?” Film ini datang dengan beban ekspektasi seberat sejarah industri tembakau Indonesia, dan saya tahu betul betapa riskan rasanya menantikan visualisasi dari cerita yang sudah mengakar di imajinasi.
Ekspektasi vs Realita: Uji Teras bagi Fans Novel
Film Gadis Kretek tidak 100% loyal. Itu fakta yang harus diterima dari awal. Sebuah adaptasi yang mengubah timeline, menghilangkan beberapa subplot, dan menambahkan adegan baru yang tidak ada di buku.
Perubahan paling signifikan ada di karakter Jeng Yah. Di novel, ia lebih kompleks, lebih gelap, dan keputusannya lebih radikal. Di film, ia tetap kuat tapi dengan nuansa yang lebih mudah dicerna massa. Ini bukan kegagalan, tapi pilihan narasi yang wajar untuk format sinematik.

Yang mengejutkan: beberapa dialog ikonik dari novel justru hadir verbatim. Adegan di kedai kopi, percakapan tentang cinta dan loyalitas yang terikat asap—masih terasa autentik. Ini seperti easter egg untuk pembaca setia.
Atmosfer Visual: Kekayaan Detail Era 1960-an
Kekuatan utama film ini adalah world-building. Produksi desainnya tidak main-main. Setiap frame penuh dengan detail: dari kemasan rokok manual, iklan tempo doeloe, hingga arsitektur rumah Jawa kolonial.
Warna-warni di pabrik kretek, suara mesin penggiling tembakau, dan bau yang hampir bisa tercium melalui layar—semua itu menciptakan imersi total. Director Ifa Isfansyah jelas melakukan riset mendalam.
Namun ada satu kelemahan teknis: pencahayaan beberapa adegan malam terlalu modern, terang benderang seperti studio. Ini sedikit mengurangi atmosfer vintage yang dibangun dengan susah payah.
Keunggulan Visual:
- Kostum akurat periodik, dari kebaya sampai setelan jas Soeraja
- Rekonstruksi pabrik kretek yang detail hingga mesin-mesinnya
- Koreografi adegan massa yang hidup tanpa terasa teaterikal
Chemistry Pemeran: Nyala atau Padam?
Di sinilah film harus menjawab tuntutan terbesar. Dian Sastrowardoyo sebagai Jeng Yah dan Ario Bayu sebagai Soeraja—apakah mereka mampu menangkap dinamika cinta terlarang yang kompleks?
Jawabannya: nyala, tapi bukan api besar. Chemistry mereka lebih dalam bentuk tatapan mata dan diam yang berbicara, bukan adegan romansa eksplisit. Ini pilihan yang elegan dan sesuai dengan konteks sosial era tersebut.

Dian membawa keanggunan dan kekerasan Jeng Yah dengan subtil. Ario Bayu, meski terlihat terlalu “bersih” untuk sosial Soeraja yang lebih layered di novel, tetap memberikan performa yang memorable.
Perubahan Naratif: Mana yang Dikorbankan?
Beberapa subplot penting dihapus. Karakter Ida, sahabat Jeng Yah, hanya muncul sekilas. Konflik internal keluarga Soeraja juga diringkas drastis. Ini mengubah lapisan cerita.
Yang paling menyakitkan fans: ending yang dimodifikasi. Tidak akan saya spoiler, tapi versi film lebih “menyejukkan” dibanding novel yang lebih ambigu dan pahit. Ini trade-off antara kepuasan penonton umum vs keaslian sumber materi.
Film juga menambahkan adegan action yang tidak perlu—perkelahian di pasar—yang terasa dipaksakan untuk menaikkan tensi. Ini justru mengganggu ritme drama yang sebenarnya sudah kuat.
Kekuatan Film di Luar Bayangan Novel
Meski banyak dikritik, film ini punya nilai tambah. Score musik karya Ricky Lionardi menggabungkan jazz era 60-an dengan gamelan modern—hasilnya hypnotik. Lagu tema “Asa yang Hilang” sudah cukup untuk membawa nostalgia.
Pacing film juga lebih cepat dari novel. Untuk penonton yang belum baca buku, ini adalah drama periodik yang mudah diikuti tanpa merasa tersesat di detail.
Ada satu keputusan brilian: penggunaan voice-over dari Jeng Yah yang membaca surat-suratnya. Ini menjaga nuansa literer novel tanpa harus monoton.
Siapa yang Harus Nonton?
Film ini bukan untuk perfectionist yang ingin adaptasi 1:1. Tapi untuk yang bisa menerima kreasi ulang, ada banyak hal untuk diapresiasi.
Jika kamu pembaca novel yang mencari jiwa cerita asli, siap-siap sedikit kecewa. Tapi jika kamu datang untuk melihat visualisasi dunia kretek yang indah dan drama cinta yang intens, film ini lebih dari memuaskan.
Bagi penonton baru yang tidak baca novel, Gadis Kretek adalah pengantar sempurna ke dunia literatur Ratih Kumala. Kamu akan keluar teater dan langsung ingin membeli bukunya.
Skor Quick Review:
| Aspek | Pembaca Novel | Penonton Baru |
|---|---|---|
| Narasi | 7/10 | 9/10 |
| Visual | 9/10 | 9/10 |
| Aktor | 8/10 | 8/10 |
| Score Musik | 10/10 | 10/10 |
Film ini adalah bukti bahwa adaptasi itu interpretasi, bukan duplikasi. Ia berhasil berdiri sendiri sebagai karya sinematik sambil tetap menghormati sumbernya—meski dengan cara yang berbeda.
Akhir kata, kekecewaan yang mungkin dirasakan fans justru menunjukkan seberapa dalam novelnya mencengkeram. Dan itu adalah pujian tersirat bagi Ratih Kumala. Film ini tidak menggantikan buku, tapi menambah dimensi baru untuk menikmati legenda Jeng Yah.