Series action lokal terbaru kembali menggoda kita dengan janji “standar Hollywood”. Tapi kita semua tahu, janji itu seringkali lebih indah dari kenyataan. Ratu Adil datang dengan ambisi besar: kisah epik penuh aksi koreografi yang katanya bakal bikin kita lupa kalau ini produksi Indonesia. Pertanyaannya, apakah ia benar-benar membebaskan diri dari jerat “kaku” yang sering menyebalkan produksi sebelumnya?
Hollywood di Tanah Air: Mimpi atau Ilusi?
Produser Ratu Adil tidak main-main dengan klaim mereka. Budget produksi yang dikabarkan mencapai angka miliaran rupiah langsung mengarahkan ekspektasi ke level internasional. Tapi angka besar bukan jaminan kualitas.
Yang menarik, series ini berani menggaet koreografer asal Korea Selatan yang pernah terlibat dalam beberapa proyek Netflix Asia. Langkah berani yang sebenarnya patut diapresiasi. Ini bukan sekadar gimmick casting, tapi investasi nyata untuk mengangkat standar.
Hasilnya? Beberapa sequence aksi di episode tiga dan lima benar-benar membuatku ternganga. Kamera bergerak mengikuti tubuh, tidak ada potongan edit yang terlalu cepat sampai bikin pusing. Terasa intimate dan brutal dalam waktu bersamaan.

Koreografi yang Mengalir atau Tersendat?
Ini inti dari semua debat. Kekakuan produksi lokal biasanya muncul dari transisi yang tidak mulus antara gerakan aktor dan kamera. Ratu Adil hampir selamat dari jebakan ini.
Episode pembuka memang masih terasa sedikit canggung. Aktor utama tampaknya belum sepenuhnya nyaman dengan ritme pertarungan yang lebih lambat tapi lebih berat. Tapi seiring episode berjalan, kamu bisa melihat kemajuan nyata.
Puncaknya ada di episode enam. Duel satu lawan satu di rooftop Jakarta yang berlangsung hampir delapan menit tanpa jeda dialog. Hanya suara napas, dentingan besi, dan cityscape malam sebagai saksi. Momen ini membuktikan kalau tim koreografi benar-benar paham bagaimana membangun tensi melalui gerakan, bukan sekadar pukulan-pukulan spektakuler.
Masih Ada Sisa-Sisa “Kaku”?
Tentu. Beberapa fight scene dengan banyak eksras masih terlihat terkoordinasi, tidak natural. Ada momen di mana aktor tampak menunggu giliran serangannya, bukan bereaksi secara instingtif. Ini detail kecil tapi penting yang masih memisahkan mereka dari standar The Raid atau John Wick.
Karakter yang Menghidupi Aksi
Yang bikin aksi di Ratu Adil lebih bermakna adalah karakternya yang punya lapisan. Protagonisnya bukan hero sempurna. Dia penuh keraguan, trauma masa lalu yang tidak cuma diungkap lewat monolog panjang, tapi juga lewat cara dia melawan.
Perhatikan bagaimana dia selalu melindungi sisi kiri tubuhnya saat serangan datang. Detail kecil ini konsisten dan punya alasan di episode tujuh. Itu contoh bagus bagaimana action design bisa jadi extension dari character development, bukan sekadar hiburan murahan.
Karakter antagonis juga tidak sekadar jahat demi jahat. Motivasinya jelas, meskipun tidak bisa dibenarkan. Interaksi mereka di episode penghujung menimbulkan pertanyaan moral yang bikin kamu berpikir, bukan sekadar bersorak “lawan harus mati!”
Detail Produksi yang Membangun Dunia
Desain produksi Ratu Adil patut diacungi jempol. Jakarta yang mereka gambarkan tidak steril seperti iklan layanan masyarakat. Ini kota yang hidup, kotor, dan berbahaya.
Pencahayaan diambil dari sumber natural. Lampu neon papan reklame, cahaya motor yang lewat, atau lampu taman yang temaram. Ini menciptakan atmosfer yang autentik, bukan studio yang terlalu terkontrol.
Score musik yang diproduksi oleh komposer lokal juga ikut mengangkat nuansa. Mereka tidak terjebak pakai gamelan atau kendang untuk “menekankan” Indonesia. Justru lebih banyak synthesizer dan drum elektrik yang pas dengan genre cyber-thriller yang mereka bangun.

Poin Kuat dan Poin Kaku
Mari kita jujur dengan daftar yang lebih konkret:
- Koreografi yang berkembang: Mulai dari 6/10 di episode satu hingga 9/10 di episode akhir
- Aktor yang committed: Melakukan 80% stunt sendiri, terlihat dari close-up wajah yang tidak pernah diganti stunt double
- Editing yang cerdas: Rata-rata durasi take lebih panjang dari series lokal sejenis (3-5 detik vs 1-2 detik)
- Script yang masih kaku: Beberapa dialog expositional masih terasa dipaksakan, terutama saat menjelaskan lore dunia
- CGI yang inconsistent: Efek darah dan ledakan terlihat bagus, tapi ada satu scene mobil chase di episode empat yang sangat video game-ish
- Pacing yang goyah: Episode tengah cenderung lambat, bukan karena build-up, tapi lebih ke filler yang sebenarnya bisa dipotong
Verdict: Setengah Jalan Menuju Kejayaan
Ratu Adil bukan produksi sempurna. Tapi ia adalah langkah signifikan untuk industri kita. Ia menunjukkan bahwa dengan budget dan tim yang tepat, kita bisa menciptakan aksi yang tidak malu-malu dibandingkan produksi internasional.
Yang masih perlu diasah adalah kepercayaan diri. Tim produksi terlihat masih ragu untuk sepenuhnya melepaskan diri dari formula drama lokal yang aman. Mereka masih menambahkan beberapa subplot romansa dan komedi yang tidak perlu, seolah takut penonton akan bosan kalau fokus hanya pada aksi dan intrik.
Ratu Adil adalah bukti kalapi industri kita sudah punya teknis untuk bersaing. Tapi untuk benar-benar merdeka dari label “kaku”, mereka harus berani lebih fokus dan percaya pada visi ori mereka. Worth watching untuk episode 3, 6, dan 7. Sisanya? Bisa di-fast forward.
Untuk kamu yang sudah lelah dengan drama keluarga yang di-dressing sebagai action, ini adalah angin segar. Tapi jangan harap level John Wick Chapter 4. Pikirkan lebih seperti The Night Comes for Us versi TV dengan lebih banyak hati dan sedikit lebih banyak cela.